Arsitek & Gambar Kerja

Landing Page Jasa Arsitek

Harga gambar kerja per meter persegi dan desain 3D, anggaran dibahas sebelum menggambar, dan satu set gambar lengkap sampai detail kusen dan titik listrik.

Pratinjau sudah dapat dibuka

Contoh ini bisa Anda buka dan coba langsung, bukan gambar mati. Buka dari ponsel untuk melihat bagaimana tampilannya di layar kecil.

Buka Contoh Ini
Yang Menentukan

Yang membuat pemilik rumah berani menyewa arsitek

Sebagian besar orang yang membangun rumah di kota kecil melewati arsitek, bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak tahu apa yang sebenarnya mereka terima setelah membayar. Halaman yang hanya memajang gambar tiga dimensi memperkuat dugaan bahwa yang dijual memang cuma gambar cantik.

1

Yang diterima disebut per lembar, bukan per paket

Denah, tampak empat sisi, potongan, detail kusen, dan titik listrik adalah daftar yang bisa dibayangkan. Satu paket gambar lengkap tidak. Calon klien yang bisa membayangkan isinya jauh lebih mudah menerima harganya.

2

Harga dihitung dari luas bangunan

Menyebut harga per meter persegi bangunan, bukan persentase nilai proyek, membuat calon klien bisa menghitung sendiri sebelum menghubungi. Persentase terdengar seperti ikut menikmati kenaikan biaya, dan itu yang paling sering membuat orang mundur diam-diam.

3

Anggaran dibahas sebelum menggambar

Menggambar dulu lalu menghitung biayanya adalah cara paling umum membuang waktu dua pihak, dan pemilik rumah sudah mendengar ceritanya dari tetangga. Menyatakan bahwa urutan Anda terbalik langsung membedakan Anda dari kebanyakan penawar.

4

Beda gambar arsitek dan gambar tukang dijelaskan

Banyak calon klien membandingkan harga Anda dengan tukang yang menggambar gratis. Jelaskan apa yang terjadi di lapangan kalau tidak ada potongan dan detail kusen — dengan menerangkan akibatnya, bukan dengan merendahkan tukangnya.

Isi Contohnya

Yang ada di dalam contoh ini

Bukan gambar mati. Semua yang tertulis di bawah bisa Anda buka, tekan, dan coba sendiri dari ponsel — termasuk tombol WhatsApp-nya.

Buka Contohnya
  • Tiga tingkat layanan dari denah saja sampai satu set lengkap
  • Harga per meter persegi bangunan, bukan persentase proyek
  • Daftar isi satu set gambar kerja sampai titik listrik
  • Lini waktu dari mengobrol sampai gambar diserahkan
  • Perbandingan gambar arsitek dan gambar tukang
  • Tanya jawab soal izin, revisi, dan pengawasan
  • Tombol WhatsApp yang pesannya sudah terisi
Tanya Jawab

Yang biasanya ditanyakan pemilik jasa arsitek

Pertanyaan di bawah ini yang paling sering masuk lewat WhatsApp sebelum orang memutuskan. Jawabannya apa adanya, termasuk ketika jawabannya “tidak bisa”.

Calon klien saya selalu menawar habis-habisan
Biasanya karena yang ditawar tidak jelas isinya. Begitu daftar lembar gambar tertulis dan jumlah revisi dibatasi angka, tawar-menawar berpindah dari berapa nih jadi yang mana yang saya butuh — dan itu percakapan yang jauh lebih sehat.
Perlu memajang proyek yang belum jadi?
Boleh, asal ditulis apa adanya sebagai gambar kerja, bukan foto hasil. Yang merusak kepercayaan bukan proyek yang belum selesai, melainkan gambar tiga dimensi yang dipajang seolah-olah bangunan yang sudah berdiri.
Saya juga menerima borongan bangun, digabung saja?
Pisahkan halamannya. Orang yang mencari arsitek justru sedang menghindari paket borongan yang gambarnya cuma jadi bonus. Kalau digabung, keraguan yang sama muncul: apakah gambarnya jujur atau menyesuaikan bahan yang Anda jual.
Berapa banyak revisi yang sebaiknya ditulis?
Tulis angkanya, berapa pun. Tiga kali revisi besar yang tertulis lebih menenangkan daripada revisi sampai puas, karena kalimat itu justru membuat calon klien menduga ada batas yang tidak diucapkan.
Mulai Sekarang

Konsultasi gratis, tanpa biaya apa pun

Ceritakan bisnis Anda melalui WhatsApp. Kami bantu menilai apakah website memang solusi yang Anda butuhkan saat ini — bila belum, kami akan menyampaikannya dengan jujur.